<strike><strike>http://www.facebook.com/media/set/?set=a.165658196866566.33275.100002671606214&type=3&l=98a032882b
Selasa, 05 Juni 2012
Rabu, 23 Mei 2012
skrpsi mas umam
A. Latar Belakang Masalah
Banyak alasan mengapa orang-orang
non arab mempelajari bahasa arab, seperti disebutkan oleh Thu’aimah (tt: 31-32), antara lain:[1]
Orang
yang menerima amanat orang tua untuk mendidik anak itu disebut guru yang
meliputi guru madrasah atau sekolah, TK, SD, SMP, SMA, PT dan sebagainya.
Namun, guru bukan hanya penerima amanat
dari orang tua untuk mendidik anaknya, melainkan dari setiap orang yang memerlukan
bantuan untuk mendidiknya.[2]
Guru adalah figur manusia sumber
yang menempati posisi dan memegang peran penting dalam pendidikan. Prajudi atmosudirjo (1982: 60)
menyebutkan bahwa guru memiliki peran yang sangat besar dalam pendidikan, di
pundaknya dibebani suatu tanggung jawab atas mutu pendidikan.[3] Ketika semua
orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan figur guru mesti terlibat
dalam agenda pembicaraan terutama yang menyangkut persoalan pendidikan formal
di sekolah. Pendidik atau guru merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan
dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Hal tersebut
tidak dapat disangkal karena lembaga
pendidikan formal adalah dunia kehidupan guru. sebagai besar waktu guru ada di
sekolah, sisanya ada di rumah dan di masyarakat (Djamarah, 2000).
Kualitas proses belajar mengajar sangat
dipengaruhi oleh kualitas kinerja guru. Oleh karena itu usaha meningkatkan kemampuan
guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, perlu secara terus menerus
mendapatkan perhatian dari penanggung jawab system pendidikan.[4]Kehadiran
guru dalam proses pembelajaran di sekolah masih tetap memegang peranan yang
penting. Peran tersebut belum dapat diganti dan diambil alih oleh apapun. Hal
ini disebabkan karena masih banyak unsur-unsur manusiawi yang tidak dapat
diganti oleh unsur lain. Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling
penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering
dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. (Wijaya dan
Rusyan, 1994).
Menurut syafri mangkuprawira dan aida
vitayala (2007:155) kinerja merupakan
suatu konstruksi multi dimensi yang mencakup banyak factor yang
mempengaruhinya. Factor-faktor tersebut terdiri atas factor intrisik guru
(personal/individu) atau sumber daya manusia(SDM) yang meliputi unsur
pengetahuan, keterampilan (skill), kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, dan
komitmen yang dimiliki oleh setiap individu dan factor ekstrinsik, yaitu kepemimpinan,
system, tim, dan situasional .[5]
Faktor-faktor tersebut berpengaruh terhadap guru dalam melaksanakan tugas-tugas
yang diberikan kepadanya, sehingga hasil akhirnya adalah kinerja guru itu
sendiri, apakah akan semakin baik atau semakin buruk.
Kinerja guru tidak hanya dilihat dari
kemampuan kerja yang sempurna, tetapi juga kemampuan menguasai dan mengelola
diri sendiri serta kemampuan dalam membina hubungan dengan orang lain (Martin,
2000, h.22). Kemampuan tersebut oleh Daniel Goleman disebut dengan Emotional
Intelligence atau kecerdasan emosi. Goleman (2000, h.46) melalui
penelitiannya mengatakan bahwa kecerdasan emosi menyumbang 80 % dari faktor
penentu kesuksesan seseorang, sedangkan 20 % yang lain ditentukan oleh IQ
(Intelligence Quotient) dan menurut Steven j. Stein,Ph.D. dan Howard E.
book, M.D. IQ hanya berperan 6% dalam kehidupan manusia ).[6]
4)
Lebih
impulsif (mengikuti kemauan naluriah atau instinktif tanpa
pertimbangan akal sehat) dan agresif.[7]
Proses belajar-mengajar merupakan
suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar
hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai
tujuan tertentu. interaksi atau hubungan timbal
balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar-mengajar.
interaksi dalam peristiwa belajar-mengajar mempunyai arti yang lebih luas,
tidak sekedar hubungan antar guru dan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif.
dalam hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan
penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar. Oleh karena itu
pemahaman dan perhatian terhadap kecerdasan emosional sangat diperlukan agar
bisa mendukung proses belajar-mengajar yang lebih efektif.[8]
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
D. Rumusan Masalah
E. Kegunaan Penelitian
Ke-lima, hasil penelitian ini tentunya juga
bermanfaat bagi peneliti sendiri di mana peneliti diharapkan dapat
mengembangkan kemampuan analisa dan kemampuan-kemampuan lain yang berkaitan
dengan kegiatan riset.
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. Definisi Konseptual
1.
Kinerja Guru
a. Pengertian
Kinerja
Setiap individu yang diberi tugas atau kepercayaan untuk
bekerja pada suatu organisasi tertentu diharapkan mampu menunjukkan kinerja
yang memuaskan dan memberikan konstribusi yang maksimal terhadap pencapaian
tujuan organisasi tersebut.
Kinerja adalah performance atau
unjuk kerja. Kinerja dapat pula diartikan prestasi kerja atau pelaksanaan kerja
atau hasil unjuk kerja. (LAN, 1992). Menurut August W. Smith, Kinerja adalah performance
is output derives from processes, human otherwise, artinya kinerja adalah
hasil dari suatu proses yang dilakukan manusia. Dari pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa kinerja merupakan suatu wujud perilaku seseorang atau
organisasi dengan orientasi prestasi. Istilah kinerja guru berasal dari kata
job performance /actual permance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya
yang dicapai oleh seseorang).Jadi menurut bahasa kinerja bisa diartikan sebagai
prestasi yang nampak sebagai bentuk keberhasilan kerja pada diri seseorang.
Keberhasilan kinerja juga ditentukan dengan pekerjaan serta kemampuan seseorang
pada bidang tersebut. Keberhasilan kerja juga berkaitan dengan kepuasan kerja
seseorang.[1] Prestasi bukan berarti banyaknya kejuaraan
yang diperoleh guru tetapi suatu keberhasilan yang salah satunya nampak dari
suatu proses belajarmengajar. Untuk mencapai kinerja maksimal, guru harus
berusaha mengembangkan seluruh kompetensi yang dimilikinya dan juga manfaatkan
serta ciptakan situasi yang ada dilingkungan sekolah sesuai dengan aturan yang
berlaku. Kemudian Anwar Prabu Mangkunegara mendefinisikan kinerja (prestasi
kerja) sebagai .hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh
seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikan.
Kinerja adalah tingkat keberhasilan seseorang atau kelompok orang
dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya serta kemampuan untuk mencapai
tujuan dan standar yang telah ditetapkan (Sulistyorini, 2001). Sedangkan Ahli
lain berpendapat bahwa Kinerja merupakan hasil dari fungsi pekerjaan atau
kegiatan tertentu yang di dalamnya terdiri dari tiga aspek yaitu:
Kejelasan tugas atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya; Kejelasan hasil
yang diharapkan dari suatu pekerjaan atau fungsi; Kejelasan waktu yang
diperlukan untuk menyelesikan suatu pekerjaan agar hasil yang diharapkan dapat
terwujud (Tempe, A Dale, 1992). Fatah (1996) Menegaskan bahwa kinerja diartikan
sebagai ungkapan kemajuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap dan motivasi
dalam menghasilkan sesuatu pekerjaan.
Dalam kamus bahasa
Indonesia Kinerja berarti sesuatu yang dicapai, prestasi yang
diperlihatkan, kemampuan kerja.[2] Seseorang untuk melaksanakan tugasnya yang baik untuk menghasilkan
hasil yang memuaskan, guna tercapainya
tujuan sebuah organisasi atau kelompok dalam suatu unit kerja. Jadi, Kinerja
karyawan merupakan hasil kerja di mana para guru mencapai
persyaratan-persyaratan pekerjaan.[3]
Dengan demikian, penulis menyimpulkan dari pengertian di atas,
bahwa kinerja adalah kemampuan yang di tunjukkan oleh seseorang untuk
melaksanakan tugasnya yang menghasilkan hasil atau prestasi yang memuaskan,
guna tercapainya tujuan organisasi kelompok dalam suatu unit kerja. Dari
beberapa penjelasan tentang pengertian kinerja di atas dapat disimpulkan bahwa
Kinerja guru adalah kemampuan yang
ditunjukkan oleh guru dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya sebagai
seorang pendidik, guna tercapainya tujuan
institusi pendidikan. Kinerja dikatakan baik dan memuaskan apabila
tujuan yang dicapai sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Jadi, kinerja guru dalam proses belajar mengajar adalah kemampuan
yang di tunjukkan oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai
pengajar yang memiliki keahlian mendidik anak didik dalam rangka pembinaan
peserta didik untuk tercapainya institusi pendidikan.
b. pengertian Guru
Kata orang jawa ’guru’ adalah singkatan dari ungkapan “di
gugu dan ditiru” Artinya, guru adalah orang yang harus di taati dan diikuti[4]Menurut pandangan tradisional,
guru adalah seseorang yang berdiri didepan kelas untuk menyampaikan ilmu
pengetahuan, sedangkan menurut seorang ahli pendidikan” teacher
is a person who causes a person to know or be able to do something or give a
person knowledge or skill”.Menurut persatuan guru-guru Amerika Serikat, guru
adalah semua petugas yang terlibat dalam tugas-tugas kependidikan (Roestyah,1982:182) dan
menurut Balnadi Sutadipura, guru adalah orang yang layak digugu dan ditiru
(Sutadi,(1983:53).[5]dan adapun tugas guru menurut
Abdullah Ulwan ialah melaksanakan pendidikan ilmiah, karena ilmu mempunyai
pengaruh besar terhdap pembentukan kepribadian dan emansipasi harkat manusia[6].Sedangkan menurut Ace suyadi
wiana mulya (1992:17) mengemukakan pendapatnya bahwa Paling sedikit ada enam
tugas dan tanggung jawab guru dalam mengembangka profesinya, yakni :
1. Guru bertugas sebagai Demonstrator atau pengajar.
2. Guru bertugas sebagai administrator kelas.
3. Guru bertugas sebagai pembimmbing.
4. Guru bertugas untuk mengembangkan profesi.
5. Guru bertugas sebagai pengembang kurikulum.
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam
menentukan keberhasilan pendidikan. Guru yang profesional diharapkan
menghasilkan lulusan yang berkualitas. Profesionalisme guru sebagai ujung
tombak di dalam implementasi kurikulum di kelas yang perlu mendapat perhatian (Depdiknas,
2005).
c. Pengertian Kinerja Guru
Dari uraian
guru di atas dapat dilanjutkan dengan pembahasan tentang kinerja guru. Karena
guru bergerak di bidang pendidikan dan pengajaran, maka tujuan yang ingin
dicapai adalah tujuan dari pendidikan dan pengajaran tersebut. Dengan demikian
kinerja guru dapat dilihat dari perbuatan atau kegiatan belajar mengajar di
dalam kelas, seperti yang dikemukakan oleh Aldag dan Stearns, kinerja adalah
seperti pengambilan keputusan pada waktu mengajar di kelas.[8]
Dengan demikian, penulis menyimpulkan dari pengertian di atas,
bahwa kinerja adalah kemampuan yang di tunjukkan oleh seseorang untuk
melaksanakan tugasnya yang menghasilkan hasil atau prestasi yang memuaskan,
guna tercapainya tujuan organisasi kelompok dalam suatu unit kerja. Dari
beberapa penjelasan tentang pengertian kinerja di atas dapat disimpulkan bahwa
Kinerja guru adalah kemampuan yang
ditunjukkan oleh guru dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya sebagai
seorang pendidik, guna tercapainya tujuan
institusi pendidikan. Kinerja dikatakan baik dan memuaskan apabila
tujuan yang dicapai sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Jadi, kinerja guru dalam proses belajar mengajar adalah kemampuan
yang di tunjukkan oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai
pengajar yang memiliki keahlian mendidik anak didik dalam rangka pembinaan
peserta didik untuk tercapainya institusi pendidikan.
Dengan demikian yang dimaksud dengan kinerja guru dalam skripsi ini
adalah sebagai keberhasilan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar
yang bermutu, meliputi aspek: kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas
mengajar, menguasai dan mengembangkan metode, menguasai bahan pelajaran dan
menggunakan sumber belajar, bertanggung jawab memantau hasil belajar mengajar,
kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam melaksanakan
pengajaran, melakukan interaksi dengan murid untuk menimbulkan motivasi,
kepribadian yang baik, jujur dan obyektif dalam membimbing siswa, mampu
berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan pemahaman dalam
administrasi
pengajaran yang tercemin dalam indikator kompetensi guru yaitu kompetensi
paedagogik, profesional, kepribadian, dan kompetensi sosial.
d. faktor- faktor yang mempengaruhi kinerja guru
Kinerja
seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: ability, capacity, held,
incentive, environment dan validity (Noto Atmojo, 1992). Sedangkan Menurut Anwar Prabu Mangkunegara .faktor yang
mempengaruhi kinerja guru adalah faktor
kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivision).[9]
a. Faktor kemampuan
Secara psikologi, kemampuan guru
terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan keampuan reality (knowledge
+ skill). Artinya seorang guru yang memiliki latar belakang pendidikan yang
tinggi dan sesuai dengan bidangnya serta terampil dalam mengerjakan pekerjaan
sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh
karena itu, pegawai perlu ditetapkan pada pekerjaan yang sesuai dengan
keahliannya. Dengan penempatan guru yang sesuai dengan bidangnya aka dapat
membantu dalam efetivitas suatu pembelajaran.
b.
Faktor motivasi
Motivasi terbentuk dari sikap
seorang guru dalam menghadapi situsi kerja. Motivasi merupakan kondisi
yang menggerakkan seseorang yang terarah untuk mencapai tujuan
pendidikan. C. Meclelland mengatakan dalam
bukunya Anwar Prabu berpendapat bahwa ada hubungan
yang positif antara motif berprestasi dengan pencapaian kinerja.[10] Guru sebagai pendidik memiliki
tugas dan tanggung jawab yang berat. Guru harus menyadari bahwa
ia hars mengerjakan tugasnya tersebut dengan sungguh-sungguh, bertanggung
jawab, ikhlas dan tidak asal-asalan, sehingga siswa dapat dengan mudah menerima
apa saja yang disampaikan oleh gurunya. Jika ini tercapainya maka guru akan memiiki tingkat kinerja yang
tinggi. Selanjutnya MeClelland
mengemukakan 6 krakteristik dari guru yang memiliki motif berprestasi
tinggi Yaitu:
1. Memiliki tanggung jawab pribadi tinggi
2. berani mengambil resiko
3. memiliki tujuan yang realistis
4. Memanfaatkan rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk merealisasi tujuannya.
5. Meanfaatkan umpan balik yang kongkret dalam seluruh kegiatan kerja yang dilakukannya.
Menurut syafri mangkuprawira dan
aida vitayala (2007:155) kinerja
merupakan suatu konstruksi multi dimensi yang mencakup banyak factor yang
mempengaruhinya. Factor-faktor tersebut terdiri atas factor intrisik guru
(personal/individu) atau sumber daya manusia(SDM) yang meliputi unsur
pengetahuan, keterampilan (skill), kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, dan
komitmen yang dimiliki oleh seiap individu
dan factor ekstrinsik, yaitu kepemimpinan, system, tim, dan situasional.[12]
Adapun faktor yang mendukung
kinerja guru dapat digolongkan ke dalam dua macam yaitu:
1. Faktor dari dalam sendiri (intern)
Di antara faktor dari dalam diri sendiri (intern) adalah
:
a)
Kecerdasan
Kecerdasan memegang peranan penting dalam keberhasilan pelaksanaan tugas-tugas. Semakin
rumit dan makmur tugas-tugas yang diemban makin tinggi
kecerdasan yang diperlukan. Seseorang yang cerdas jika diberikan tugas
yang sederhana dan monoton mungkin akan terasa jenuh dan akan
berakibat pada penurunan kinerjanya
b) Keterampilan dan kecakapan
Keterampilan dan kecakapan orang
berbeda-beda. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan dari
berbagai pengalaman dan latihan.
c) Bakat
Penyesuaian antara bakat dan pilihan
pekerjaan dapat menjadikan seseorang bekarja dengan pilihan
dan keahliannya.
d) Kemampuan dan minat
Syarat untuk mendapatkan ketenangan kerja
bagi seseorang adalah tugas dan jabatan yang sesuai
dengan kemampuannya. Kemampuan yang disertai dengan
minat yang tinggi dapat menunjang pekerjaan yang telah
ditekuni
e) Motif
Motif yang dimiliki dapat mendorong meningkatkannya kerja seseorang
f) Kesehatan
Kesehatan dapat membantu proses bekerja
seseorang sampai selesai. Jika kesehatan terganggu
maka pekerjaan terganggu pula.
g) Kepribadian
Seseorang yang mempunyai kepribadian kuat dan
integral tinggi kemungkinan tidak akan banyak mengalami kesulitan dan
menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja dan interaksi dengan rekan kerja ang
akan meningkatkan kerjanya.
h) Cita-cita dan tujuan dalam bekerja
Jika pekerjaan yang diemban seseorang sesuai
dengan cita-cita maka tujuan yang hendak dicapai dapat terlaksanakan karena ia
bekerja secara sungguh-sungguh, rajin, dan bekerja dengan sepenuh hati.
2. Faktor dari luar diri sendiri (ekstern)
Yang termasuk faktor dari luar diri sendiri (ekstern) diantaranya:
1) Lingkungan
keluarga
Keadaan lingkungan keluarga dapat
mempengaruhi kinerja seseorang. Ketegangan dalam
kehidupan keluarga dapat menurunkan gairah kerja.
2) Lingkungan kerja
Situasi kerja yang menyenangkan
dapat mendorong seseorang bekerja secara optimal. Tidak
jarang kekecewaan dan kegagalan dialami seseorang di tempat ia bekerja.
Lingkungan kerja yang dimaksud di sini adalah situasi kerja, rasa aman, gaji
yang memadai, kesempatan untuk mengembangan karir, dan rekan kerja yang
kologial.
3) Komunikasi dengan
kepala sekolah
Komunikasi yang baik di sekolah
adalah komunikasi yang efektif. Tidak adanya komunikasi yang efektif dapat
mengakibatkan timbulnya salah pengertian.
4) Sarana dan
prasarana
Adanya sarana dan prasarana yang
memadai membantu guru dalam meningkatkan kinerjanya terutama
kinerja dalam proses mengajarmengajar.[13]
5) Kegiatan guru di
kelas
Peningkatan dan perbaikan
pendidikan harus dilakukan secara bertahap. Dinamika guru dalam
pengembangan program pembelajaran tidak akan bermakna
bagi perbaikan proses dan hasil belajar siswa, jika manajemen
sekolahnya tidak memberi peluang tumbuh dan berkembangnya
kreatifitas guru. Demikian juga penambahan sumber belajar berupa
perpustakaan dan laboratorium tidak akan bermakna jika manajemen
sekolahnya tidak memberikan perhatian serius dalam
mengoptimalkan pemanfaatan sumber belajar tersebut dalam
proses belajar mengajar. Menurut Dede Rosyada dalam bukunya Paradigma
Pendidikan Demokratis bahwa kegiatan guru di dalam kelas
meliputi:
a. Guru harus menyusun perencanaan pembelajaran yang bijak
b. Guru harus mampu berkomunikasi secara efektif dengan
siswa-siswanya
c. Guru harus mengembangkan strategi pembelajaran yang membelajarkan
d. Guru harus menguasai kelas
6) Kegiatan guru di sekolah antara lain yaitu:
Berpartisipasi dalam bidang
administrasi, di mana dalam bidang administrasi ini para guru
memiliki kesempatan yang banyak untuk ikut serta dalam kegiatan-kegiatan
sekolah antara lain:
a. Mengembangkan filsafat pendidikan
b. Memperbaiki dan menyesuaikan kurikulum
c. Merencanakan program supervisi
Semua pekerjaan itu harus dikerjakan
bersama-sama antara guru yang satu dengan yang lainnya
yaitu dengan cara bermusyawarah. Untuk meningkatkan kinerja, para
guru harus melihat pada keadaan pemimpinnya (kepsek).Jadi, dapat
disimpulkan bahwa baik dan buruknya guru dalam proses belajar mengajar
dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah supervisor dalam
melaksanakan pengawasan atau supervisi terhadap kemampuan
(kinerja guru).
Sedangkan menurut PP RI No. 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyebutkan bahwa kemampuan (ability)
guru sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja dalam mencapai
keberhasilan proses belajar mengajar mencakup empat macam, meliputi:[16]
a. kompetensi paedagogik
b. kompetensi kepribadian
c. kompetensi profesional
d. kompentensi sosial”
Keberhasilan seorang guru bisa
dilihat apabila kriteria-kriteria yang ada telah mencapai secara
keseluruhan. Jika kriteria telah tercapai berarti pekerjaan seseorang telah dianggap
memiliki kualitas kerja yang baik. Sebagaimana yang telah disebutkan
dalam pengertian kinerja bahwa kinerja guru adalah hasil kerja
yang terlihat dari serangkaian kemampuan yang dimiliki oleh seorang yang
berprofesi guru.[17]
Adapun penjelasan dari ke empat dari kompetensi tersebut
adalah:
a. kompetensi
paedagogik
Adalah mengenai bagaimana kemampuan guru
dalam mengajar, dalam Peraturan Pemerintah RI No 19
Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dijelaskan kemampuan
ini meliputi kemampuan mengelola pembelajaran yang meliputi
pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan
pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.[18] Kompetensi paedagogik ini
berkaitan pada saat guru mengadakan proses belajar mengajar di kelas.
Mulai dari membuat skenario pembelajaran memilih metode,
media, juga alat evaluasi bagi anak didiknya. Karena bagaimanapun
dalam proses belajar mengajar sebagian besar hasil belajar peserta didik
ditentukan oleh peranan guru. Guru yang cerdas dan kreatif akan mampu
menciptakan suasana belajar yang efektif dan efisien sehingga pembelajaran
tidak berjalan sia-sia. Suryo Subroto mengatakan bahwa
yang dimaksud kinerja guru dalam proses belajar mengajar adalah
.kesangupan atau kecakapan para guru dalam menciptakan suasana
komunikasi yang edukatif antara guru dan peserta didik yang mencakup segi
kognitif, efektif, dan psikomotorik sebagai upaya mempelajari sesuatu
berdasarkan perencanaan sampai dengan tahap evaluasi dan tindak
lanjut agar tercapai tujuan pengajaran. Jadi kompetensi paedagogik ini
berkatan dengan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar
yakni pesiapan mengajar yang mencakup merancang dan melaksanakan
skenario pembelajaran, memilih metode, media, serta alat evaluasi bagi
anak didik agar tervapai tujuan pendidikan baik pada ranah kognitif, efektif,
maupun psikomotorik siswa.
b. kompetensi
kepribadian
Berperan sebagai guru memerlukan kepribadian
yang unik. Kepribadian guru ini meliputi kemampuan
kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi
teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Seorang guru harus mempunyai peran
ganda. Peran tersebut diwujudkan sesuai dengan situasi
dan kondisi yang dihadapi. Adakalanya guru harus berempati
pada siswanya dan adakalanya guru harus bersikap kritis. Berempati
maksudnya guru harus dengan sabar menghadapi keinginan siswanya juga harus
melindungi dan melayani siswanya tetapi disisi lain guru juga harus bersikap
tegas jika ada siswanya berbuat salah. Menurut Moh. Uzer Usman kemampuan
kepribadian guru meliputi hal-hal berikut:
1. Mengembangkan kepribadian
2. Berinteraksi dan berkomunikasi
3. Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan
4. Melaksanakan administrasi sekolah
Kepribadian guru penting karena guru
merupakan cerminan prilaku bagi siswa-siswanya.
c. Kompetensi profesional
Pekerjaan seorang guru adalah
merupakan suatu profesi yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.
Profesi adalah pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus
dan biasanya dibuktikan dengan sertifikasi dalam bentuk ijazah.
Profesi guru ini memiliki prinsip yang dijelaskan dalam Undang-Undang
Guru dan Dosen No.14 Tahun 2005 sebagai berikut:
1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme
2. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak
mulia
3. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang
pendidikan sesuai dengan bidang tugas.
4. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas
5. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas
keprofesionalan
6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai denga
prestasi kerja
7. Memiliki kesempatan untuk mengembangan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan
sepanjang hayat
8. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.
9. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan
yang mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas
keprofesionalan guru.[20]
d. kompentensi sosial
kompetensi sosial berkaitan dengan
kemampuan diri dalam menghadapi orang lain. Dalam
peraturan pemerintah RI No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan dijelaskan kompensasi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai
bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara
efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan,
orang tua peserta pendidikan, dan masyarakat sekitar.
Kompetensi sosial seorang guru
merupakan modal dasar guru yang bersangkutan dalam menjalankan
tugas keguruan. Saiful Hadi berpendapat kompetensi ini berhubungan denagn
kemampuan guru sebagai anggota masyarakat dan sebagai makhluk
sosial yang meliputi:
1.
Kemampuan untuk berinteraksi dan
berkomunikasi denagn teman sejawat untuk meningkat
kemampuan professional
2. Kemampuan untuk mengenal dan memahami fungsi-fungsi setiap lembaga kemasyarakatan.
Menurut Mungin Edy Wibowo
Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat
untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, dan
masyarakat sekitar. Kemampuan sosial sangat penting karena manusia bukan
makhluk individu. Segala kegiatannya pasti dipengaruhi juga oleh pengaruh orang lain.
Berkenaan
dengan kepentingan penilaian terhadap kinerja guru. Georgia Departemen of
Education telah mengembangkan teacher performance assessment instrument yang
kemudian dimodifikasi oleh Depdiknas menjadi Alat Penilaian Kemampuan Guru
(APKG). Alat penilaian kemampuan guru, meliputi: (1) rencana pembelajaran (teaching
plans and materials) atau disebut dengann RPP (Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran), (2) prosedur pembelajaran (classroom procedure), dan (3)
hubungan antar pribadi (interpersonal skill).
Indikator penilaian terhadap
kinerja guru dilakukan terhadap tiga kegiatan pembelajaran dikelas yaitu:
1.
Perencanaan
Program Kegiatan Pembelajaran
Tahap perencanaan dalam
kegiatan pembelajaran adalah tahap yang berhubungan dengan kemampuan guru
menguasai bahan ajar. Kemampuan guru dapat dilihat dari cara atau proses
penyusunan program kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, yaitu
mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Unsur/komponen yang ada dalam silabus terdiri dari:
1)
Identitas
Silabus
a. Stándar Kompetensi (SK)
b.Kompetensi
Dasar (KD)
c. Materi Pembelajaran
d.
Kegiatan
Pembelajaran
e. Indikator
f. Alokasi waktu
g.Sumber
pembelajaran
Program pembelajaran jangka
waktu singkat sering dikenal dengan sitilah RPP, yang merupakan penjabaran
lebih rinci dan specifik dari silabus,ditandai oleh adanya komponen-komponen :
a.
Identitas
RPP
b.
Stándar
Kompetensi (SK)
c.
Kompetensi
dasar (KD)
d.
Indikator
e.
Tujuan
pembelajaran
f.
Materi
pembelajaran
g.
Metode
pembelajaran
h.
Langkah-langkah
kegiatan
i.
Sumber
pembelajaran
j.
Penilaian
2. Pelaksanaan
Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran di kelas
adalah inti penyelenggaraan pendidikan yang ditandai oleh adanya kegiatan
pengelolaan kelas, penggunaan media dan sumber belajar, dan penggunaan metode
serta strategi pembejaran. Semua tugas tersebut merupakan tugas dan tanggung
jawab guru yang secara optimal dalam pelaksanaanya menuntut kemampuan guru.
a.
Pengelolaan
Kelas
Kemampuan
menciptakan suasana kondusif di kelas guna mewujudkan proses pembelajaran yang
menyenangkan adalah tuntutan bagi seorang guru dalam pengelolaan kelas.
Kemampuan guru dalam memupuk kerjasama dan disiplin siswa dapat diketahui
melalui pelaksanaan piket kebersihan, ketepatan waktu masuk dan keluar kelas,
melakukan absensi setiap akan memulai proses pembelajaran, dan melakukan
pengaturan tempat duduk siswa. Kemampuan lainnya dalam pengelolaan kelas adalah
pengaturan ruang/setting tempat duduk siswa yang dilakukan pergantian,
tujuannya memberikan kesempatan belajar secara merata kepada siswa.
b.
Penggunaan
Media dan Sumber Belajar
Kemampuan
lainnya dalam pelaksanaan pembelajaran yang perlu dikuasi guru di samping
pengelolaan kelas adalah menggunakan media dan sumber belajar. Media adalah
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (materi
pembelajaran), merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan siswa,
sehingga dapat mendorong proses pembelajaran. (R. Ibrahim dan Nana Syaodih S.,
1993: 78).Sedangkan
yang dimaksud dengan sumber belajar adalah buku pedoman. Kemampuan menguasai
sumber belajar di samping mengerti dan memahami buku teks, seorang guru juga
harus berusaha mencari dan membaca buku-buku/sumber-sumber lain yang relevan
guna meningkatkan kemampuan terutama untuk keperluan perluasan dan pendalaman
materi, dan pengayaan dalam proses pembelajaran. Kemampuan menggunakan media
dan sumber belajar tidak hanya menggunakan media yang sudah tersedia seperti
media cetak, media audio, dan media audio visual. Tatapi kemampuan guru di sini
lebih ditekankan pada penggunaan objek nyata yang ada di sekitar sekolahnya.
Dalam kenyataan di lapangan guru dapat memanfaatkan media yang sudah ada (by
utilization) seperti globe, peta, gambar dan sebagainya, atau guru dapat
mendesain media untuk kepentingan pembelajaran (by design) seperti
membuat media foto, film, pembelajaran berbasis komputer, dan sebagainya.
c.
Penggunaan Metode Pembelajaran
Kemampuan berikutnya adalah
penggunaan metode pembelajaran. Guru diharapkan mampu memilih dan menggunakan
metode pembelajaran sesuai dengan materi yang akan
disampaikan. Menurut R. Ibrahim dan Nana S.Sukmadinata (1993: 74) ”Setiap
metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan dilihat dari berbagai
sudut, namun yang penting bagi guru metode manapun yang digunakan harus jelas
tujuan yang akan dicapai”.
Karena
siswa memiliki interes yang sangat heterogen idealnya seorang guru harus
menggunakan multi metode, yaitu memvariasikan penggunaan metode pembelajaran di
dalam kelas seperti metode ceramah dipadukan dengan tanya jawab dan penugasan
atau metode diskusi dengan pemberian tugas dan seterusnya. Hal ini dimaksudkan
untuk menjembatani kebutuhan siswa, dan menghindari terjadinya kejenuhan yang
dialami siswa.
4.
Evaluasi/Penilaian Pembelajaran
Penilaian
hasil belajar adalah kegiatan atau cara yang ditujukan untuk mengetahui
tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran dan juga proses pembelajaran yang
telah dilakukan. Pada tahap ini seorang guru dituntut memiliki kemampuan dalam
menentukan pendekatan dan cara-cara evaluasi, penyusunan alat-alat evaluasi,
pengolahan, dan penggunaan hasil evaluasi. Pendekatan atau cara yang dapat
digunakan untuk melakukan evaluasi/ penilaian hasil belajar adalah
melalui Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP). PAN adalah cara penilaian yang
tidak selalu tergantung pada jumlah soal yang diberikan atau penilaian dimaksudkan
untuk mengetahui kedudukan hasil belajar yang dicapai
berdasarkan norma kelas. Siswa yang paling besar skor yang didapat di kelasnya,
adalah siswa yang memiliki kedudukan tertinggi di kelasnya. Sedangkan PAP
adalah cara penilaian, dimana nilai yang diperoleh siswa tergantung pada
seberapa jauh tujuan yang tercermin dalam soal-soal tes yang dapat dikuasai
siswa. Nilai tertinggi adalah nilai sebenarnya berdasarkan jumlah soal tes yang
dijawab dengan benar oleh siswa. Dalam PAP ada passing grade atau batas
lulus, apakah siswa dapat dikatakan lulus atau tidak berdasarkan batas lulus
yang telah ditetapkan.
B.
Indikator Abilitas Guru
Abilitas
dapat dipandang sebagai suatu karakteristik umum dari seseorang yang
berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan yang diwujudkan melalui
tindakan. Abilitas seorang guru secara aplikatif indikatornya dapat digambarkan
melalui delapan keterampilan mengajar (teaching skills), yakni:
1.
Keterampilan Bertanya (Questioning skills)
Dalam
proses pembelajaran, bertanya memainkan peranan penting, hal ini dikarenakan
pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik melontarkan pertanyaan yang
tepat akan memberikan dampak positif terhadap siswa, yiatu:
a.
Meningkatkan pastisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.
b.
Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu masa-lah yang
sedang dibicarakan.
c.
Mengembangkan pola fikir dan cara belajar aktif dari siswa, karena pada
hakikatnya berpikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya.
d. Menuntun
proses berpikir siswa, sebab pertanyaan yang baik akan mem-bantu siswa agar
dapat menentukan jawaban yang baik.
e.
Memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.
Pertanyaan
yang baik menurut Uzer Usman (1992: 67) adalah:
a. Jelas
dan mudah dimengerti oleh siswa.
b.
Berikan informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan.
c.
Difokuskan pada suatu masalah atau tugas tertentu.
d.
Berikan waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir sebelum menjawab
pertanyaan.
e.
Berikan pertanyaan kepada seluruh siswa secara merata.
f.
Berikan respon yang ramah dan menyenangkan sehingga timbul kebera-nian siswa
untuk menjawab dan bertanya.
g.
Tuntunlah jawaban siswa sehingga mereka dapat menemukan sendiri jawaban yang
benar.
2.
Keterampilan Memberi Penguatan (Reinforcement Skills)
Penguatan
adalah segala bentuk respon apakah bersifat verbal (diungkapkan dengan
kata-kata langsung seperti: bagus, pintar, ya, betul, tepat sekali,dan
sebagainya), maupun nonverbal (biasanya dilakukan dengan gerak, isyarat, pendekatan,
dan sebagainya) merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap
tingkah laku siswa yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feedback)
bagi siswa atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan atau koreksi.
Reinforcement dapat berarti juga respon terhadap suatu tingkah laku yang
dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.
Tindakah tersebut dimaksudkan untuk memberikan ganjaran atau membesarkan hati siswa agar
mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi pembelajaran.
Tujuan
dari pemberian penguatan ini adalah untuk:
(1)
Meningkatkan perhatian siswa terhadap pembelajaran.
(2)
Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar.
(3)
Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif.
Ada 4
cara dalam memberikan penguatan (reinforcement) yaitu:
a.
Penguatan kepada pribadi tertentu. Penguatan harus jelas kepada siapa
ditujukan, yaitu dengan cara menyebutkan namanya, sebab bila tidak jelas
akan
tidak efektif.
b. Penguatan
kepada kelompok siswa, yaitu dengan memberikan penghargaan kepada kelompok
siswa yang dapat menyelesaikan tugas dengan baik.
c.
Pemberian penguatan dengan cara segera. Penguatan seharusnya diberikan sesegera
mungkin setelah muncul tingkah laku/respon siswa yang diharapkan .Penguatan
yang ditunda cenderung kurang efektif.
d.
Variasi dalam penggunaan. Jenis penguatan yang diberikan hendaknya bervariasi,
tidak terbatas pada satu jenis saja karena akan menimbulkan
kebosanan,
dan lama kelamaan akan kurang efektif.
3.
Keterampilan Mengadakan Variasi
Variasi
stimulus adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi pembelajaran
yang ditujukan untuk mengatasi kejenuhan siswa, sehingga
dalam
situasi belajar mengajar, siswa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh
partisipasi.
Tujuan
dan manfaat variation skills adalah untuk:
a.
Menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek pembelajaran
yang relevan.
b.
Memberikan kesempatan berkembangnya bakat yang dimiliki siswa
c.
Memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai
cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik.
d.
Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran yang
disenangi.
Ada tiga
prinsip penggunaan variation skills yang perlu diperhatikan guru yaitu:
a.
Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan
tujuan yang hendak dicapai.
b.
Variasi harus digunakan secara lancar dan berkesinambungan sehingga tidak akan
merusak perhatian siswa dan tidak mengganggu kegiatan pembelajaran.
c.
Direncanakan secara baik, dan secara eksplisit dicantumkan dalam rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP).
4.
Keterampilan Menjelaskan (Explaning skills)
Keterampilan
menjelaskan dalam pembelajaran adalah penyajian informasi secara lisan yang
diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan
adanya
hubungan yang satu dengan lainnya, misalnya sebab dan akibat. Penyampaian
informasi yang terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok
merupakan ciri utama kegiatan menjelaskan. Pemberian penjelasan merupakan aspek
yang sangat penting dari kegiatan guru dalam berinteraksi dengan siswa di dalam
kelas.
Tujuan
pemberian penjelasan dalam pembelajaran adalah: (1) membimbing siswa untuk
dapat memahami konsep, hukum, dalil, fakta, dan prinsip secara objektif dan
bernalar; (2) melibatkan siswa untuk berfikir dengan memacahkan masalah-masalah
atau pertanyaan; (3) mendapatkan balikan dari siswa mengenai tingkat
pemahamannya dan untuk mengatasi kesalahpahaman siswa; dan (4) membimbing siswa
untuk menghayati dan mendapat proses penalaran dan menggunakan bukti-bukti
dalam memecahkan masalah.
a.
Komponen-komponen dalam Menjelaskan (explaning skills)
1)
Merencanakan
Penjelasan
yang dilakukan guru perlu direncanakan dengan baik, terutama yang berkenaan
dengan isi materi dan siswa itu sendiri. Isi materi meliputi
analisis
masalah secara keseluruhan, penentuan jenis hubungan yang ada di antara
unsur-unsur yang dikaitkan dengan penggunaan rumus, hukum, generalisasi yang
sesuai dengan hubungan yang telah ditentukan. Hal-hal yang berhubungan dengan
siswa hendaknya diperhatikan perbedaan individual tiap siswa baik itu usia,
tugas perkembangan, jenis kelamin, kemampuan, interes, latar belakang sosial
budaya, bakat, dan lingkungan belajar anak.
2)
Penyajian Suatu Penjelasan
Penyajian
suatu penjelasan dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan hal-hal
berikuti ini:
a)
Kejelasan.
Penjelasan hendaknya diberikan dengan
menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh siswa, hindari penggunaan kata
yang tidak perlu.
b)
Penggunaan Contoh dan Ilustrasi.
Memberikan
penjelasan sebaiknya menggunakan contoh-contoh yang ada hubungannya dengan
sesuatu yang dapat ditemui oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari
(kontekstual).
c) Pemberian
Tekanan.
Dalam
memberikan penjelasan guru harus memusatkan perhatian siswa kepada
masalah/topik utama dan mengurangi informasi yang tidak terlalu penting.
d)
Penggunaan Balikan.
Guru
hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman,
keraguan, atau ketidak-mengertian siswa ketika penjelasan itu diberikan.
5.
Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran (Set Induction and Closure Skills)
Membuka
pelajaran (set insuction) adalah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh
guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan pra-kondisi bagi siswa agar
mental maupun perhatiannnya terpusat pada apa yang akan dipelajarinya, sehingga
usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar.
Menutup
pelajaran (closure) adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk
mengakhiri kegiatan pembelajaran. Kegiatan ini dimaksudkan untuk
memberikan
gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari oleh siswa, mengetahui
tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses
pembelajaran. Komponen membuka dan menutup pelajaran sebagaimana dijelaskan M.
Uzer Usman (1992: 85) adalah sebagai berikut:
a.
Membuka Pelajaran
Membuka
Pelajaran, komponennya meliputi:
1)
Menarik perhatian siswa. Gaya mengajar, penggunaan media pembelajaran atau pola
interaksi yang bervariasi.
2)
Menimbulkan motivasi, disertasi kehangatan dan keantusiasan, menimbulkan rasa
ingin tahu, mengemukakan ide yang bertentangan dan memperhatikan minat atau
interest siswa.
3)
Bemberi acuan melalui berbagai usaha, seperti mengemukakan tujuan pembelajaran
dan batas-batas tugas, menyarankan langkah-langkah yang
akan
dilakukan, mengingatkan masalah pokok yang akan diba-has dan mengajukan
beberapa pertanyaan.
4)
Memberikan apersepsi (memberikan kaitan
antara materi sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari) sehingga materi
yang dipelajari merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak terpisah-pisah.
b.
Menutup Pelajaran.
Dalam
menutup pelajaran, cara yang harus dilakukan guru adalah:
1)
Meninjau kembali penguasaan materi pokok dengan merangkum atau menyimpulkan
hasil pembelajaran.
2)
Melakukan evaluasi. Bentuk evaluasi yang dilakukan oleh guru antara lain adalah
mendemonstrasikan keterampilan, mengaplikasikan ide baru pada situasi lain,
mengeksplorasi pendapat siswa sendiri dan memberikan soal-soal tertulis.
6.
Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi
kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok siswa
dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai
pengalaman
atau informasi, pengambilan kesimpulan dan pemacahan masalah. Siswa berdiskusi
dalam kelompok-kelompok kecil di bawah bimbingan guru atau temannya untuk
berbagi informasi, pemecahan masalah atau pengambilan keputusan.
Komponen-komponen
yang perlu dikuasi guru dalam membimbing diskusi kelompok yaitu:
a.
Memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topik diskusi, dengan cara
merumuskan tujuan dan topik yang akan dibahas pada awal diskusi, kemukakan
masalah-masalah khusus, catat perubahan atau penyimpangan diskusi dari tujuan
dan merangkum hasil diskusi.
b.
Memperjelas masalah, untuk menghindari kesalahpahaman dalam memimpin diskusi
seorang guru perlu memperjelas atau menguraikan permasalahan, meminta komentar
siswa, dan menguraikan gagasan siswa dengan memberikan informasi tambahan agar
kelompok peserta diskusi memperoleh pengertian yang lebih jelas.
c.
Menganalisis pandangan siswa. Adanya perbedaan pendapat dalam diskusi, menuntut
seorang guru harus mampu menganalisis dengan cara memperjelas hal-hal yang
disepakati dan hal-hal yang perlu disepakati di samping meneliti apakah suatu
alasan mempunyai dasar yang kuat.
d.
Meningkatkan urunan siswa, yaitu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
menantang, memberikan contoh dengan tepat, dan memberikan waktu untuk berpikir
dan memberikan urun pendapat siswa dengan penuh perhatian.
e.
Memberikan kesempatan untuk berpartisipasi, dilakukan dengan cara memancing
pertanyaan siswa yang enggan berpartisipasi, memberikan kesempatan pada siswa yang
belum bertanya (diam) terlebih dahulu, mencegah monopoli pembicaraan, dan
mendorong siswa untuk berkomentar terhadap pertanyaan temannya.
f.
Menutup diskusi, yaitu membuat rangkuman hasil diskusi, menindaklanjuti hasil
diskusi dan mengajak siswa untuk menilai proses maupun hasil diskusi.
g. Hal-hal
yang perlu dihindari yaitu mendominasi/monopoli pembicaraan dalam diskusi,
membiarkan terjadinya penyimpangan dalam diskusi.
7.
Keterampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan
kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar
yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses
pembelajaran, seperti penghentian perilaku siswa yang memindahkan perhatian
kelas, memberikan ganjaran bagi siswa yang tepat waktu dalam dalam
menyelesaikan tugas atau penetapan norma kelompok yang produktif.
Komponen-komponen
dalam mengelola kelas adalah sebagai berikut:
1)
Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi
belajar yang optimal, seperti menunjukkan sikap tanggap, memberikan perhatian,
memusatkan perhatian kelompok, memberikan petunjuk yang jelas, menegur bila
siswa melakukan tindakan menyimpang, memberikan penguatan (reinforcement).
2)
Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal,
yaitu berkaitan dengan respon guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan
maksud agar guru dapat melakukan tindakan remidial untuk mengembalikan kondisi
belajar yang optimal. Guru dapat menggunakan strategi:
a)
Modifikasi tingkah laku. Guru hendaknya menganalisis tingkah laku siswa yang
mengalami masalah/kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut
dengan mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.
b) Guru
menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara memperlancar
tugas-tugas melalui kerjasama di antara siswa dan memelihara kegiatan-kegiatan
kelompok.
c)
Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah. Di samping dua
jenis keterampilan di atas, hal lain yang perlu diperhatikan oleh guru dalam
pengelolaan kelas adalah menghindari campur tangan yang berlebihan,
menghentikan penjelasan tanpa alasan, ketidaktepatan memulai dan mengakhiri
kegiatan, penyimpangan, dan sikap yang terlalu membingungkan.
8.
Keterampilan Pembelajaran Perseorangan
Pembelajaran
ini terjadi bila jumlah siswa yang dihadapi oleh guru terbatas yaitu antara 3-8
orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perseorangan. Hakikat
pembelajaran perseorangan adalah:
a.
Terjadinya hubungan interpersonal antara guru dengan siswa dan juga siswa
dengan siswa.
b. Siswa
belajar sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing.
c. Siswa
mendapat bantuan dari guru sesuai dengan kebutuhannya.
d. Siswa
dilibatkan dalam perencanaan kegiatan pembelajaran.
Peran
guru dalam pembelajaran perseorangan ini adalah sebagai organisator, nara-sumber,
motivator, fasilitator, konselor dan sekaligus sebagai peserta kegiatan.
Komponen-komponen
yang perlu dikuasi guru berkenaan dengan pembelajaran perseorangan ini adalah:
a.
Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi.
b.
Keterampilan mengorganisasi.
c.
Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar, yaitu memungkinkan guru
membantu siswa untuk maju tanpa mengalami frustasi. Hal ini
dapat
dicapai bagi guru yang memiliki keterampilan dalam memberikan penguatan dan
mengembangkan supervisi.
a. Keterampilan merencanakan dan
melaksanakan kegiatan pembelajaran, mencakup membantu siswa menetapkan tujuan
dan menstimulasi siswa untuk mencapai tujuan tersebut, merencanakan kegiatan
pembelajaran bersama siswa yang mencakup kriteria keberhasilan, langkah-langkah
kegiatan pembelajaran, waktu serta kondisi belajar, bertindak sebagai
supervisor dan membantu siswa menilai pencapaiannya sendiri.
2. kecerdasan Emosional
a. Pengertian Emosi
Kata emosi berasal dari
bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini
menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi.
Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) Secara harfiah makna emosi diambil dari
oxford english dictionary dimaknai sebagai setiap kegiatan atau pergolakan
pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-meluap
yang mana emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu
keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sementara itu, chaplin (1989) dalam
dictionary of phsychology mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan yang
terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang
mendalam sifatnya dari perubahan perilaku Emosi pada dasarnya
adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap
rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira
mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat
tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.
Emosi berkaitan dengan
perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu
aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator
perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku
intensional manusia. (Prawitasari,1995)
Beberapa tokoh mengemukakan tentang
macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas
: Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love
(cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam
emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta). Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan
beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu
:
a. Amarah : beringas, mengamuk, benci,
jengkel, kesal hati
b. Kesedihan : pedih,
sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi
diri, putus asa
c. Rasa takut : cemas,
gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri
d. Kenikmatan : bahagia,
gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
e. Cinta :
penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti,
hormat, kemesraan, kasih
f. Terkejut : terkesiap, terkejut
g. Jengkel : hina, jijik, muak, mual,
tidak suka
h. malu : malu hati,
kesal[22]
Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa
semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi
berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau
bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam the Nicomachea Ethics
pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup
yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan
kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan;
nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu
dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi.
Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan
mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2002 :
xvi).
Menurut Mayer (Goleman,
2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan
mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan
pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki
kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan
hidup yang di jalani menjadi sia-sia.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa
emosi adalah suatu perasaan (afek) yang kuat dan mendorong individu
untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus atau perangsang, baik yang berasal dari
dalam maupun dari luar dirinya.
b.
Pengertian kecerdasan
c. Pengertian kecerdasan emosional
Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990
oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari
University of New Hampshire untuk
menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi
keberhasilan.
Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering
disebut EQ sebagai :
“himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau
perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah
semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.”
(Shapiro, 1998:8).[23]
Dari Uraian Peter Salovey dan John Mayer, selanjutnya Daniel
Goleman mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan dalam mengenali
perasaan-perasaan diri sendiri dan orang lain, dalam memotivasi diri sendiri
dan mengelola emosi diri sendiri dengan baik maupun dalam melakukan hubungan
sosial[24]. Ahli lain yaitu J. Dann mengartikan kecerdasan emosi sebagai
kemampuan dalam menggunakan emosi-emosi seseorang yang membantu memecahkan
masalah-masalah dan menjalani kehidupan secara lebih efektif.[25]
Kecerdasan emosional
menurut Ary Ginanjar Agustian adalah seseorang yang memiliki ketangungguhan,
inisiatif, optomisme, dan kemampuan beradaptasi.[26]
Kecerdasan emosional
sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah
setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa
kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional sebab
kebanyakan orang tua hanya mengembangkan kecerdasan intelektual anak saja tanpa
memperhatikan perkembangan kecerdasan emosional anaknya padahal menurut para
pakar kecerdasan emosional lebih berperan penting dalam menjalani hidup ini[27].
Keterampilan EQ bukanlah
lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi
secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain
itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. (Shapiro, 1998-10).
Sebuah model pelopor lain yentang kecerdasan emosional
diajukan oleh Bar-On pada tahun 1992 seorang ahli psikologi Israel, yang
mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai serangkaian kemampuan pribadi,
emosi dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi
tututan dan tekanan lingkungan (Goleman,
2000 :180).
Gardner dalam bukunya yang berjudul Frame Of Mind
(Goleman, 2000 : 50-53) mengatakan bahwa bukan hanya satu jenis kecerdasan yang
monolitik yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan, melainkan ada
spektrum kecerdasan yang lebar dengan tujuh varietas utama yaitu linguistik,
matematika/logika, spasial, kinestetik, musik, interpersonal dan intrapersonal.
Kecerdasan ini dinamakan oleh Gardner sebagai kecerdasan pribadi yang oleh
Daniel Goleman disebut sebagai
kecerdasan emosional.
Menurut Gardner,
kecerdasan pribadi terdiri dari :”kecerdasan antar pribadi yaitu kemampuan
untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka
bekerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan kecerdasan. Sedangkan kecerdasan
intra pribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri.
Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang
teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan modal tadi
sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif.” (Goleman, 2002 : 52).
Dalam rumusan lain,
Gardner menyatakan bahwa inti kecerdasan antar pribadi itu mencakup “kemampuan
untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi
dan hasrat orang lain.” Dalam kecerdasan antar pribadi yang merupakan kunci
menuju pengetahuan diri, ia mencantumkan “akses menuju perasaan-perasaan diri
seseorang dan kemampuan untuk membedakan perasaan-perasaan tersebut serta
memanfaatkannya untuk menuntun tingkah laku”. (Goleman, 2002 : 53).
Berdasarkan kecerdasan yang dinyatakan oleh Gardner
tersebut, Salovey (Goleman, 200:57) memilih kecerdasan interpersonal dan
kecerdasan intrapersonal untuk dijadikan sebagai dasar untuk mengungkap
kecerdasan emosional pada diri individu. Menurutnya kecerdasan emosional adalah
kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi
diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina
hubungan (kerjasama) dengan orang lain.
David Coleman
memberikan penjelasan melalui ciri-ciri orang yang memilikin kecerdasan
emosional adalah sebagai berikut:
1) Memiliki pengaruh:
melakukan taktik persuasi secara efektif.
2) Mampu berkomuniasi:
mengirimkan pesan secara jelas dan meyakinkan.
3) Manajemen konflik:
merundingkan dan menyelesaikan pendapat.
4) Kepemimpinan:
menjadi pemandu dan member ilham.
5) Katalisator
perubahan: mengawali, mendoroang, atau mengelola perubahan.
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan
emosional adalah kemampuan guru untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi
diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan
kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.
a. Faktor Kecerdasan Emosional
Goleman mengutip Salovey (2002:58-59) menempatkan menempatkan kecerdasan
pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang
dicetuskannya dan memperluas kemampuan tersebut menjadi
lima kemampuan utama, yaitu :
1. Kesadaran Emosi.
Kesadaran emosi merupakan kemampuan untuk mengenali emosi pada
waktu emosi itu terjadi. Kesadaran emosi berarti waspada terhadap suasana hati
atau pikiran tentang suasana hati atau tidak hanyut dalam emosi. Orang yang
dapat mengenali emosi atau kesadaran diri terhadap emosi, tidak buta terhadap
emosiemosinya sendiri, termasuk dapat memberikan label setiap emosi yang
dirasakan secara tepat. Mengenali emosi atau kesadaran diri terhadap emosi ini
merupakan dasar kecerdasan emosi.[28]
Emosi-emosi seseorang sangat mengganggu pikiran, emosi merupakan
tamu yang tak diundang dalam kehidupan kita, namun emosi memberi informasi yang
bila diabaikan akan mengakibatkan masalah-masalah serius. Jika kita menyadari
keberadaan emosi ini, maka kita akan memperlakukan emosi ini dengan rasional.Orang
yang mampu mengenali emosinya akan mampu menjawab siapa saya sebenarnya, yang
pada umumnya ada beberapa orang yang tidak mampu menjawab siapa saya
sebenarnya. Dalam konsep Johari Windows ada 4 daerah kesadaran yaitu[29] :
a.
Daerah terbuka yang berisi hal-hal yang disadari atau diketahui baik oleh yang
bersangkutan maupun orang lain.
b.
Daerah buta yang berisi hal-hal yang diketahui orang lain tetapi tidak disadari
oleh orang yang bersangkutan.
c.
Daerah tersembunyi yang berisi hal- hal yang diketahui atau disadari oleh yang
bersangkutan tetapi disembunyikan sehingga tidak diketahui oleh orang lain.
d.
Daerah gelap yang berisi hal-hal yang tidak diketahui oleh yang bersangkutan
maupun oleh orang lain.
Orang yang cerdas emosi, biasanya mempunyai daerah yang terbuka
yang berisi hal-hal yang disadari atau diketahui baik oleh orang yang
bersangkutan maupun oleh orang lain.
Orang yang mempunyai kesadaran emosi menyadari apa yang sedang kita
pikirkan dan apa yang akan kita rasakan saat ini. Kesadaran diri terhadap emosi
merupakan inti kecerdasan emosi. apabila kita ingin mengembangkan kecerdasan
emosi, kita harus memulai dengan meningkatkan kesadaran diri.Menurut J Dann,
Kompetensi kesadaran diri sebagai berikut[30] :
a. Mengetahui
emosi yang sedang mereka rasakan, dapat mengetahui alasan timbulnya emosi-emosi
tersebut.
b.
Menyadari rantai emosi dengan tindakan (hubungan antara perasaan-perasaannya dan
apa yang sedang dipikirkan, dilakukan dan dikatakan)
c.
Mengenali bagaimana perasaan-perasaan itu mempengaruhi kinerja, kualitas
pengalaman di tempat kerja dan dalam hubungan mereka.
d. Memiliki
kesadaran penuntun terhadap nilai-nilai dan tujuan.
2. Pengendalian Emosi.
Seseorang
yang dapat mengendalikan diri mereka dapat mengelola dan mengekspresikan emosi
yang ditandai dengan adanya[31] :
a. Dapat
menangani emosi, sehingga emosi dapat diekspresikan dengan tepat.
b. Mempunyai
toleransi terhadap frustrasi.
c. Menangani
ketegangan jiwa dengan lebih baik.
a. Mengetahui
perbedaan antara diri sendiri dan orang lain.
b.
Menempatkan sikap yang menerima. Beberapa penghalangnya adalah memiliki
perasaan tertentu pada orang lain, menggunakan katakatam yang tidak mendukung
atau meremehkan.
c.
Mengirimkan pesan melalui suara, misalnya volume suara, kecepatan berbicara,
aksen atau logat yang sesuai, ada waktu diam sejenak.
d.
Menggunakan kalimat pembuka, misalnya bagaimana kabarmu sepertinya ada sesuatu
yang anda pikirkan.
e. Mengembalikan
kembali apa yang dibicarakan lawan bicara.
f.
Merefleksikan perasaan dan alasan lawan bicara
g. Menghindari
hal-hal yang tidak menerima orang lain.
a.
Berhenti menuruti hal-hal yang menghasilkan perilaku-perilaku yang tidak
produktif.
b.
Tetap tenang, berfikir positif dan tidak bingung, bahkan pada saat keadaan
sangat sulit.
c.
Mengelola emosi yang menyusahkan dan mengurangi kecemasan pada saat mengalami
emosi tersebut.
d.
Stabil, berfikir tenang yaitu tetap terfokus meskipun berada dibawah tekanan
sekalipun.
3. Motivasi diri .
Menata emosi merupakan hal yang sangat erat kaitannya dengan
motivasi diri dan untuk berkreasi. Orang yang mampu mengendalikan emosi
merupakan landasan keberhasilan dalam segala bidang. Orang yang mempunyai
motivasi diri cenderung lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang
mereka kerjakan[34].
Menurut Daniel Goleman ciri-ciri orang yang mempunyai motivasi diri
serta dapat memanfaatkan emosi secara produktif adalah sebagai berikut[35]:
a)
Ketekunan dalam usaha mencapai tujuan.
b)
Kemampuan untuk menguasai diri
c)
Bertanggung-jawab
d)
Dapat membuat rencana-rencana inovatif-kreatif ke depan dan mampu
menyesuaikan diri, mampu menunda pemenuhan kebutuhan sesaat untuk tujuan yang lebih
besar, lebih agung dan lebih menguntungkan.
a.
Memiliki dorongan untuk selalu memperbaiki atau memenuhi standard-standard yang
tinggi.
b.
Memperlihatkan komitmen dalam semua hubungan dengan orang lain.
c.
Mencari peluang terlebih dahulu, bukan mencari masalah.
d.
Memperlihatkan keuletan dalam mencapai tujuan dan kemauan memecahkan hambatan
atau kemunduran
4. Empati (Mengenali Emosi Orang Lain).
Orang yang empati
lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan
hal-hal yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain. Orang-orang seperti ini
cocok untuk pekerjaan-pekerjaan keperawatan, mengajar, penjualan dan manajemen.
Ciri-ciri orang yang empati adalah sebagai berikut :
a. Mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang
mengisyaratkan kebutuhan orang lain.
b. Mampu menerima sudut pandang atau pendapat orang lain.
c. Peka terhadap perasaan orang lain.
d. Mampu mendengarkan orang lain.
Rogers
mengatakan bahwa empati merupakan kepedulian yang mendalam atau penerimaan yang
penuh terhadap orang lain, selanjutnya Authier (1986) mengatakan bahwa empati
adalah mampu mendengarkan dengan sepenuhnya pada orang lain. Pemahaman yang empati
adalah sebuah dimensi khusus
dalam membangun hubungan pengasuhan. Empati bukanlah simpati tetapi merupakan
kemampuan untuk merefleksikan secara obyektif perasaan-perasaan dari seorang
pasien, yang mungkin tidak diungkapkan dalam kata-kata. Di dalamnya terlibat
penerimaan dan penghargaan, tanpa prasangka, terhadap keunikan pribadi. Empati
adalah mempersepsikan dunia sebagaimana
pasien mempersepsikanya. Scheler mengatakan bahwa empati adalah merasakan
perasaan orang lain, tanpa melakukan penilaian terhadap orang lain[37].
5. Membina hubungan antar manusia
(pergaulan)
Orang yang
mampu melakukan hubungan sosial merupakan orang yang cerdas emosi. Orang yang
cerdas emosi akan mampu menjalin hubungan dengan orang lain, mereka dapat
menikmati persahabatan dengan tulus. Ketulusan memerlukan kesadaran diri dan
ungkapan emosional sehingga pada saat berbicara dengan seseorang, kita dapat
mengungkapkan perasaan-perasaan secara terbuka termasuk gangguan-gangguan
apapun yang merintangi kemampuan seseorang untuk mengungkapkan perasaan secara
terbuka[38].
Dalam melakukan
hubungan sosial, hal pertama yang perlu dilakukan adalah membina rasa saling
percaya satu sama lain. Menurut Herb Gohen, orang yang memberi kepercayaan pada
orang lain maka dia akan dipercaya orang lain. Apabila seseorang menunjukkan
kepercayaan pada orang lain dan bersikap jujur, maka orang lain akan lebih
terbuka dan percaya dengan kita. Seseorang akan menikmati pembicaraan apabila
dia percaya dengan kita[39].
Dalam melakukan
hubungan sosial, kita perlu menanamkan rasa saling ketergantungan atau rasa
saling terikat dengan orang lain. Orang yang mempunyai hubungan sosial yang
baik, maka ia mampu membuat dirinya bermanfaat bagi orang lain. Orang yang
mampu melakukan hubungan sosial akan disenangi oleh teman-temannya dan berhasil
di pekerjaan maupun dalam membina rumah tangga. Orang yang ingin berhasil dalam
membina hubungan dengan orang lain harus lebih banyak membuat orang lain
bahagia dan tidak merendahkan orang lain. Orang yang mampu berhubungan sosial
dengan orang lain maka orang tersebut telah mencapai 85 % dalam mengatasi
kesulitan dalam pekerjaan dan 99 % mencapai keberhasilan dalam kehidupan
pribadi. Menurut J Dann, Kompetensi hubungan sosial seseorang ditunjukkan
dengan ciri-ciri sebagai berikut[40]:
a. Mudah bergaul dan bersahabat.
b. Perhatian dan tenggang rasa.
c. Suka berbagi rasa, bekerja sama dan suka menolong.
d. Lebih demokratis dalam bergaul dengan orang lain.
e. Disukai.
f. Kesetiakawanan.
Berdasarkan uraian
tersebut di atas, penulis mengambil komponen-komponen utama dan prinsip-prinsip
dasar dari kecerdasan emosional sebagai faktor untuk mengembangkan instrumen kecerdasan emosional.
C. Kerangka Teoritis Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Kinerja Guru
Guru adalah
unsur utama dalam suatu proses pendidikan. Guru berada dalam
front terdepan pendidikan yang berhadapan langsung dengan peserta didik
melalui proses interaksi intruksional sebagai wahana terjadinya proses pembelajaran
siswa dengan nuansa pendidikan. Dalam
proses pembelajaran tersebut, peserta didik akan memperoleh banyak
ilmu pengetahuan, pengalaman belajar, dan hubungan sosial dengan sesama,
Untuk mencapai tujuan pendidikan yakni memperoleh perubahan baik dari
segi kognitif. Efektif maupun psikomotorik siswa dalam berprilaku menuju
yang lebih baik.
Untuk
menjalankan tugasnya dengan baik, guru memerlukan kinerja yang tinggi demi
tercapainya tujuan pendidikan. Tinggi rendahnya kinerja seseorang bisa
dipengaruhi oleh diri-sendiri juga dari dari orang lain atau lingkngan luar.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil kinerja guru dalam perencanaan
pembelajaran, kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran, kinerja guru dalam
evaluasi pembelajaran, serta kinerja guru dalam disiplin tugas. Terletak pada
kinerja serta prestasi kerja guru-guru yang berada dalam suatu sekolah. Jadi
dengan adanya kinerja guru dalam pembelajaran. Maka hasil yang menentukan dari
suatu proses pendidikan adalah pendidik itu sendiri. Hal ini merupakan kinerja
guru paling berkualitas setumpuk tugas serta tanggung jawab yang di embannya
guru harus mampu menunjukkan bahwa guru mampu menghasilkan kinerja yang baik
demi terciptanya pendidikan yang bermutu terkait dengan
banyaknya faktor yang mempengaruhi kinerja guru, masih ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam mencapai keberhasilan
selain kecerdasan ataupun kecakapan intelektual, faktor tersebut adalah
kecerdasan emosional. Karena kecerdasan
intelektual saja tidak memberikan persiapan bagi individu untuk menghadapi
gejolak, kesempatan ataupun kesulitan-kesulitan dalam kehidupan. Dengan kecerdasan emosional, individu mampu mengetahui dan
menanggapi perasaan mereka sendiri dengan baik dan mampu membaca dan menghadapi
perasaan-perasaan orang lain dengan efektif. Individu dengan keterampilan
emosional yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan berhasil dalam
kehidupan dan memiliki motivasi untuk berprestasi. Sedangkan individu yang
tidak dapat menahan kendali atas kehidupan emosionalnya akan mengalami
pertarungan batin yang merusak kemampuannya untuk memusatkan perhatian pada
tugas-tugasnya dan memiliki pikiran yang jernih.
Individu yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih baik,
dapat menjadi lebih terampil dalam menenangkan dirinya dengan cepat, jarang
tertular penyakit, lebih terampil dalam memusatkan perhatian, lebih baik dalam
berhubungan dengan orang lain, lebih cakap dalam memahami orang lain dan untuk
kerja akademis di sekolah lebih baik (Gottman, 2001:xvii).
Kecerdasan
emosi mempunyai hubungan dengan Kinerja Guru. Orang yang kecerdasan emosinya
tinggi mempunyai kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang
mempunyai kecerdasan emosi yang rendah.
Dalam kehidupan sehari-hari orang yang cerdas emosi mudah menyadari
keadaan dirinya, mampu mengendalikan emosi pada situasi yang tidak
menyenangkan, sehingga ia mampu melaksanakan pekerjaan atau profesinya dengan
baik.
Dibawah ini akan dibahas hubungan faktor-faktor kecerdasan emosi
terhadap Kinerja Guru.
1. Hubungan Kesadaran Emosi dengan Kinerja Guru
Emosi-emosi
seseorang sangat mengganggu pikiran, emosi merupakan tamu yang tak diundang
dalam kehidupan kita, namun emosi memberi informasi yang bila diabaikan akan
mengakibatkan masalah-masalah serius. Jika kita menyadari keberadaan emosi ini,
maka kita akan memperlakukan emosi ini dengan rasional, sehingga seseorang akan
mampu melakukan pekerjaannya dengan baik. Kurangnya kesadaran tentang aspek
diri sendiri akan mempengaruhi dalam pelaksanaan sutu pekerjaan karena adanya
gangguan dalam diri. Peningkatan kesadaran diri akan menghasilkan kinerja yang
lebih efektif.
2. Hubungan Pengendalian Emosi dengan Kinerja Guru
Faktor
kecerdasan emosi kedua yaitu pengendalian emosi mempunyai hubungan dengan
Kinerja Guru. Orang yang mampu mengendalikan emosi, ia tidak menuruti hal-hal
yang menghasilkan perilaku-perilaku yang tidak produktif, tetap tenang,
berfikir positif dan tidak bingung, bahkan pada saat keadaan sangat sulit.
Mereka mampu mengelola emosi yang menyusahkan dan mengurangi kecemasan pada
saat mengalami emosi tersebut serta tetap stabil, berfikir tenang yaitu tetap
terfokus meskipun berada dibawah tekanan sekalipun. Keadaan tenang dan stabil
ini membuat seseorang dapat melakukan suatu pekerjaan dengan lebih tenang dan
baik. Berbeda dengan orang yang sulit mengendalikan diri, maka mereka akan
mendapatkan hambatan dalam melaksanakan
profesinya.
3. Hubungan Motivasi Diri dengan Kinerja Guru.
Orang yang
mampu memotivasi diri, mereka selalu bersemangat dalam kehidupannya, cara
berfikirnya positif dan tidak berprasangka buruk pada orang lain, hal ini yang
menimbulkan mereka mampu untuk bekerja lebih semangat.Orang yang mampu
memotivasi diri, mereka termasuk orang-orang yang mempunyai sikap optimis,
mereka mempunyai pengharapan yang sangat kuat, berkeyakinan bahwa segala
sesuatu akan beres, meskipun sedang dilanda masalah. Orang yang optimis
memandang kegagalan disebabkan oleh sesuatu hal yang dapat diubah sehingga
mereka dapat berhasil pada masa-masa mendatang. Orang yang optimis merupakan
orang yang cerdas emosi, mereka akan tetap melakukan pekerjaan dengan baik meskipun sedang dilandamasalah.
4. Hubungan Empati dengan Kinerja Guru
Orang yang
empati mempunyai kepedulian yang mendalam atau penerimaan yang penuh terhadap
orang lain serta mampu mendengarkan orang lain dengan sepenuhnya. Seorang guru
yang mempunyai sikap empati ia akan memahami perasaan muritnya yang sedang mengalami
kesulitan belajar. Guru yang empati akan mampu memahami masalah muritnya,
sehingga mereka akan mencoba membantu dan membimbing muritnya dalam mengatasi
masalahnya.
Rogers
mengatakan bahwa dalam menghadapi murit yang mengalami gangguan emosional diperlukan
sikap empati dari guru, seorang guru harus mampu merefleksikan yaitu mampu
dalam memahami secara empati ke dalam kualitas bimbingan belajar.
5. hubungan Hubungan Sosial terhadap Kinerja Guru.
Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi Kinerja Guru adalah
percaya pada orang lain. Apabila percaya bahwa orang lain tidak akan
menghianati dan merugikan maka ia akan banyak membuka diri pada orang lain.
Hubungan sosial akan menentukan efektivitas kinerja. Kepercayaan meningkatkan
Kinerja Guru karena membuka saluran komunikasi, memperjelas pengiriman dan
penerimaan informasi, serta memperluas peluang komunikan untuk mencapai
maksudnya.
Kinerja yang efektif
ditandai dengan hubungan sosial yang baik. Kegagalan kinerja akan terjadi
apabila hubungan diantara komunikan menjadi rusak. Kinerja Guru dinyatakan
efektif bila hubungan antara guru dengan orang lain merupakan hal yang
menyenangkan. Bila kita berkumpul dengan orang yang menyenangkan maka akan
terjadi komunikasi yang menyenangkan. Setiap melakukan komunikasi , kita tidak
hanya sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan
interpersonal. Makin baik hubungan interpersonal maka akan terjadi hal-hal
sebagai berikut :
a. Makin terbuka seseorang mengungkapkan perasaannya
b. Makin cenderung meneliti perasaannya secara mendalam .
c. Makin cenderung mendengar dengan penuh perhatian dan bertindak.
Makin baik hubungan seseorang makin terbuka seseorang untuk
mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain
dan
persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang
berlangsung diantara
komunikan.
Dari uraian di atas
dapat diambil kesimpulan bahwa kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor
yang penting yang seharusnya dimiliki oleh Guru yang memiliki kebutuhan untuk
meraih Kinerja Guru yang lebih baik di sekolah.
D. Hipotesis
Berdasarkan uraian
teoritik di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut :
“Ada hubungan antara kecerdasan
emosional dan kinerja guru.”
[1] A. A.
Anwar Prabu Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Bandung: PT.
Rosda
Karya, 2000), h. 67
[3] Henry Simamora, Manajemen
Sunber Daya Manusia, (Jakarta: STIE YKPN, 1995),h. 433.
[4] D.Deni koswara & Halimah.Seluk beluk profesi guru
[5] Dr.HSyafruddin Nurdin,M.pd.Guru Profesional &
Implementasi kurikulum
[6]
Abdullah Ulwan
Co., 1987), h.77
[9] A.A Anwar Prabu
Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya 2004), h. 6
[12] Martin yamin
dan Maisah. Standarisasi kinerja guru,(Jakarta: GPP Press, 2010)cetakan
pertama.h.129
[13] Kartono Kartini, Menyiapkan
dan memadukan Karir, (Jakarta: CV Rajawali, 1985), h. 22.
[14] Dede Rosyada, Paradigma
Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan
Pendidikan, (Jakarta:PT Kencana, 2004), h. 122.
[15] M. Ngalim
Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta:
RemajaRosdakarya, 2003), h. 144-150.
(Ciputat:
Han.s Print, 2005), h. 26-27
(Jakarta:
CV Eko Jaya,2005),h.26
[22]
psikologipembelajaran
[23] Lawrence
E Saphiro. Mengajarkan Emosional Inteligensi Pada Anak/Lawrence E.
Shapiro; alih bahasa, Alex Tri Kantjono. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
1997). Hlm. 8
IQ.
PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997.
Pustaka, Jakarta, 2002.
[26] Ary
Ginanjar Agustian. Rahasian Sukses membangun kecerdasan emosi dan spiritual
(The ESQ way 165). (Jakarta: Arga, 2001). Hlm 41
[27]Umi
istiqomah,S.Sos.merawat dan mendidik anak
IQ. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997.
RSJD Dr. Amino Gondohutomo, Semarang,
2003
Pustaka, Jakarta, 2002.
IQ. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997.
[32] Lawrence E Saphiro. Mengajarkan Emosional Inteligensi Pada Anak/Lawrence E. Shapiro; alih bahasa, Alex Tri
Kantjono. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1997). Hlm. 8
Kepemimpinan dan
Organisasi.
PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,
2001
IQ. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997.
Pustaka, Jakarta, 2002.
Keperawatan : Teori dan Praktik. Buku
Kedokteran EGC, Jakarta, 1999.
Insani
Press, Jakarta , 2005.
Pustaka, Jakarta, 2002
Pustaka, Jakarta, 2002
Langganan:
Postingan (Atom)